BANDA ACEH – Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un masyarakat Aceh kembali diselimuti duka mendalam. Salah satu tokoh sentral dalam perjalanan sejarah Aceh pascakonflik dan perdamaian, Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto, meninggal dunia pada Sabtu, 13 Juni 2026, sekitar pukul 12.30 WIB di Banda Aceh dalam usia 86 tahun.
Almarhum menghembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di RSUD dr. Zainoel Abidin. Kabar duka tersebut dibenarkan pihak rumah sakit dan segera menyebar luas, mengundang belasungkawa dari berbagai kalangan masyarakat, tokoh agama, tokoh politik, hingga para pejuang perdamaian Aceh.
Jenazah almarhum direncanakan dimandikan di RSUDZA sebelum dibawa ke rumah duka di kawasan Geuceu, Banda Aceh. Selanjutnya, jenazah akan dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman usai Shalat Ashar sebelum diberangkatkan ke Kabupaten Pidie untuk dimakamkan di Trubue, Kecamatan Mutiara.
Abu Doto bukan hanya dikenal sebagai mantan gubernur, tetapi juga sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan perjuangan rakyat Aceh. Sebagai bagian dari sejarah perjuangan Gerakan Aceh Merdeka, beliau turut menjadi figur yang berperan dalam mengantarkan Aceh menuju era perdamaian yang lahir melalui Perjanjian Helsinki.
Pasca perdamaian, Abu Doto memilih jalur pembangunan dan demokrasi. Bersama para tokoh Aceh lainnya, beliau berkomitmen mengubah semangat perjuangan menjadi energi untuk membangun daerah, memperkuat kesejahteraan rakyat, serta menjaga marwah Aceh dalam bingkai perdamaian yang berkelanjutan.
Saat menjabat sebagai Gubernur Aceh periode 2012–2017, Abu Doto memimpin Aceh pada masa yang sangat strategis, yaitu fase konsolidasi perdamaian dan percepatan pembangunan pascatsunami.
Salah satu warisan yang paling dikenang masyarakat adalah pengembangan kawasan Masjid Raya Baiturrahman. Di bawah kepemimpinannya, masjid kebanggaan rakyat Aceh tersebut mengalami penataan besar-besaran, termasuk pembangunan payung elektrik yang kini menjadi ikon religius, budaya, dan pariwisata Aceh di tingkat nasional maupun internasional.
Selain itu, berbagai program pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, penguatan syariat Islam, serta pengembangan ekonomi masyarakat terus digalakkan sebagai bagian dari upaya mewujudkan Aceh yang damai, maju, dan
Kepergian Abu Doto tidak hanya menjadi duka bagi keluarga besar yang ditinggalkan, tetapi juga bagi seluruh rakyat Aceh. Sosoknya dikenal sebagai pemimpin yang sederhana, dekat dengan masyarakat, serta memiliki pengaruh besar dalam perjalanan politik dan pembangunan Aceh modern.
Dari masa perjuangan, proses perdamaian, hingga masa pembangunan, Abu Doto telah menorehkan jejak pengabdian yang akan selalu tercatat dalam sejarah Aceh. Namanya akan dikenang sebagai salah satu putra terbaik Aceh yang mengabdikan hidupnya untuk perjuangan, perdamaian, dan kemajuan Tanah Rencong.
Selamat jalan Abu Doto. Jasa dan pengabdianmu akan selalu menjadi bagian dari sejarah Aceh. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.











Komentar