News
Beranda » Berita » Pulang dari Malaysia, Wali Nanggroe Temui Eks Kombatan GAM di Aceh Timur

Pulang dari Malaysia, Wali Nanggroe Temui Eks Kombatan GAM di Aceh Timur

ACEH TIMUR – Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia (PYM) Tgk. Malik Mahmud Al Haythar, kembali menjalankan sejumlah agenda di Aceh setelah sebelumnya menjalani pengobatan di Malaysia.

Dalam kunjungannya ke Kabupaten Aceh Timur, Wali Nanggroe menyempatkan diri bertemu dengan sejumlah eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh Timur Pada, 28 September 2026.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Sejumlah eks kombatan GAM hadir untuk menyambut kedatangan Wali Nanggroe sekaligus bersilaturahmi setelah lama tidak bertemu.

Kehadiran Tgk. Malik Mahmud di tengah para eks kombatan GAM juga menjadi momentum untuk mempererat kembali hubungan dan komunikasi antara para mantan pejuang yang pernah terlibat dalam perjalanan panjang konflik Aceh.

Dalam pertemuan itu, berbagai hal turut dibicarakan, terutama menyangkut kondisi Aceh serta kehidupan masyarakat dan para mantan kombatan GAM di wilayah Aceh Timur.

Wali Nanggroe diketahui merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan perdamaian Aceh. Bersama sejumlah tokoh lainnya, ia terlibat dalam proses yang kemudian melahirkan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki pada 15 Agustus 2005, yang mengakhiri konflik bersenjata antara Pemerintah Republik Indonesia dan GAM.

Cegah Calo hingga Tren Judi Online, Mahkamah Syariah Lhokseumawe Tangani 426 Perkara hingga Triwulan III 2026

Karena itu, pertemuan dengan para eks kombatan GAM memiliki makna tersendiri, terutama dalam menjaga silaturahmi dan semangat perdamaian yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.

Usai menjalani pengobatan di Malaysia, aktivitas Wali Nanggroe di sejumlah daerah Aceh juga menjadi bagian dari agenda silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat.

Pertemuan di Aceh Timur tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Para eks kombatan GAM menyampaikan sambutan hangat atas kedatangan Wali Nanggroe setelah kembali dari Malaysia.

Silaturahmi itu sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan perdamaian Aceh tidak hanya berhenti pada penandatanganan MoU Helsinki, tetapi juga perlu terus dirawat melalui komunikasi, persaudaraan dan kebersamaan antarelemen masyarakat Aceh.

DPRK Aceh Utara Desak PEMA dan PGE Lunasi PI 10 Persen yang Menunggak Sejak 2023

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *