News
Beranda » Berita » Aceh Dibiarkan Menangis, JASA Peringatkan Pemerintah Pusat: Pengabaian Bencana Bisa Picu Perlawanan!

Aceh Dibiarkan Menangis, JASA Peringatkan Pemerintah Pusat: Pengabaian Bencana Bisa Picu Perlawanan!

ACEH UTARA – Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Daerah II Tgk. Chiek di Cot Plieng mengeluarkan peringatan keras kepada Pemerintah Republik Indonesia terkait lambannya penanganan bencana di Aceh. Sikap Jakarta yang dinilai “tuli” dan apatis terhadap penderitaan rakyat Aceh dianggap sebagai pemantik yang bisa membakar kembali luka lama dan kekecewaan sosial yang mendalam.

Jakarta Dinilai Main-Main dengan Nasib Aceh

Ketua JASA Daerah II, Ibnu Moulana, menegaskan bahwa ketidakhadiran negara secara maksimal di tengah bencana yang meluluhlantakkan Aceh bukan sekadar masalah logistik, melainkan bentuk penghinaan terhadap nilai kemanusiaan dan keadilan bagi rakyat Aceh.

> “Kami peringatkan dengan tegas: Pemerintah RI jangan coba-coba membangunkan sel-sel tidur di Tanoeh Rencong!” ujar Ibnu Moulana dengan nada tinggi. “Jangan paksa rakyat Aceh untuk mengingat kembali masa-masa kelam karena merasa dianaktirikan oleh pusat di saat kami sedang berduka.”

Desak Status Bencana Nasional: “Hentikan Seremonial!”

TKD Aceh 2026 Aman dari Efisiensi, DPRA Minta Pemanfaatan Tepat Sasaran

Ibnu Moulana menilai kunjungan-kunjungan pejabat pusat sejauh ini hanya bersifat seremonial tanpa dampak konkret. Ia menuntut kejujuran pemerintah: jika memang APBD dan kapasitas daerah sudah lumpuh, Pusat harus segera menetapkan status Bencana Nasional.

1. Bukan Kelemahan, Tapi Kewajiban: Penetapan status Bencana Nasional adalah instrumen konstitusional, bukan tanda kelemahan negara.

2. Akses Total: Status ini dibutuhkan agar seluruh sumber daya nasional dikerahkan secara masif tanpa birokrasi yang berbelit-belit.

3. Hentikan Retorika: Rakyat Aceh tidak butuh pernyataan normatif; rakyat butuh alat berat, bantuan medis, dan pemulihan ekonomi yang nyata.

Menjaga Perdamaian dengan Perlawanan terhadap Pengabaian

Ketua JASA Aceh Utara: Narasi Baut Hilang KSAD Hanya Pengalihan Isu Penganiayaan Warga Oleh TNI

JASA mengingatkan bahwa perdamaian Aceh (MoU Helsinki) bukanlah “cek kosong”. Perdamaian tersebut harus dirawat dengan keadilan dan empati. Pengabaian terhadap bencana ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap semangat rekonsiliasi.

“Rakyat Aceh tidak meminta keistimewaan yang muluk-muluk, kami hanya menagih keadilan yang menjadi hak kami sebagai manusia. Jangan biarkan Aceh menangis sendirian. Jika Jakarta terus abai, jangan salahkan jika muncul reaksi keras dari akar rumput yang merasa dikhianati oleh negara,” tegasnya lagi.

Apresiasi Sektor Swasta di Tengah Kelumpuhan Pemerintah

Di sisi lain, Ibnu Moulana menyinggung gerakan nyata dari pihak swasta, Aksi nyata influencer, relawan, dan selebritas tersebut dianggap sebagai tamparan bagi pemerintah pusat yang hingga kini masih ragu mengambil langkah strategis.

JASA mendesak Presiden dan jajaran terkait untuk segera mengeluarkan keputusan strategis dalam waktu dekat guna menetapkan status bencana nasional, sebelum kekecewaan rakyat berubah menjadi gelombang protes yang tidak diinginkan.

Bantu Korban Banjir, Pon Yaya Gerakkan KONI Aceh Salurkan 150 Ton Bantuan Banjir

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *