BIREUEN – Sejarah bukan sekadar kisah masa lalu, tetapi cahaya yang menerangi perjalanan sebuah bangsa. Berangkat dari semangat tersebut, Komunitas Baca Bireuen kembali menggelar diskusi literasi bertajuk “Mengenang Habib Bugak dan Warisannya untuk Bangsa Aceh” di Harvies Coffee, Bireuen, Sabtu (25/7).
Melalui kegiatan ini, Komunitas Baca Bireuen berupaya menghadirkan kembali sosok-sosok besar Aceh ke tengah masyarakat. Diskusi tersebut menjadi ruang bersama untuk mengenang, mengkaji, sekaligus meneladani tokoh-tokoh yang telah mengabdikan hidupnya demi kemaslahatan umat, agar jejak perjuangan mereka tidak pernah hilang dari ingatan generasi penerus.
Pemantik diskusi, Qafrawi Rienza, mengatakan bahwa sejarah harus terus dipelajari dan disampaikan kepada masyarakat dalam berbagai ruang diskusi.
“Sejarah tidak boleh hilang dari telinga masyarakat, terutama generasi-generasi muda. Melalui forum seperti ini, kita berharap nilai perjuangan dan keteladanan para tokoh dapat terus diwariskan,” ujarnya.
Salah satu tokoh yang menjadi fokus pembahasan adalah Habib Bugak Al-Asyi, ulama dan dermawan asal Aceh yang namanya terus dikenang melalui wakaf Baitul Asyi (Rumah Aceh) di Kota Makkah.
Wakaf tersebut hingga kini tetap menjadi penopang bagi jamaah haji asal Aceh, membuktikan bahwa sebuah amal yang dibangun dengan keikhlasan mampu menembus batas ruang dan waktu.
Habib Bugak diperkirakan hidup pada abad ke-18 hingga ke-19. Pada abad ke-19, beliau mewakafkan hartanya senilai sekitar 2.000 riyal untuk kepentingan masyarakat Aceh.
Wakaf itu kemudian berkembang menjadi aset yang terus memberikan manfaat kepada jamaah haji Aceh hingga hari ini, menjadikannya salah satu warisan filantropi terbesar yang pernah lahir dari tanah Aceh.
Diskusi berlangsung dengan sangat hidup. Berbagai referensi sejarah, pandangan akademik, serta interpretasi para peneliti saling dipertukarkan. Pembahasan berjalan begitu alot hingga berakhirnya kegiatan, mencerminkan besarnya antusiasme peserta dalam memahami sosok Habib Bugak dan nilai-nilai yang diwariskannya.
Sementara itu, PIC Manuskrip Komunitas Baca Bireuen, Rizki Wahyudi, menjelaskan bahwa dalam kajian sejarah terdapat beberapa perbedaan mengenai penyebutan nama Habib Bugak. Sebagian peneliti menuliskannya sebagai Habib Bugak, sementara sebagian lainnya menyebutnya Habib Buja’.
“Perbedaan penyebutan tersebut merupakan bagian dari kekayaan khazanah pengetahuan yang kita miliki.
Beragam tafsir para peneliti itu sama sekali tidak mengurangi kebesaran sosok pewakaf Baitul Asyi sebagai seorang ulama yang alim, dermawan, dan visioner. Yang paling penting bukan semata-mata bagaimana kita menyebut namanya, melainkan bagaimana kita mampu meneladani cara berpikir beliau.
Pewakaf Baitul Asyi telah membuktikan bahwa seseorang mampu melampaui zamannya dengan memikirkan masa depan masyarakat melalui sebuah wakaf yang manfaatnya terus mengalir hingga hari ini. Inilah semangat yang harus kita wariskan kepada generasi Aceh. Sudah saatnya kita melahirkan anak-anak muda yang berani bermimpi besar, berpikir jauh ke depan, ikhlas mengabdi, dan meninggalkan karya yang manfaatnya terus hidup untuk masyarakat, sebagaimana dicontohkan oleh pewakaf Baitul Asyi,” tegasnya.
Ketua Komunitas Baca Bireuen, Ema Yuliana, mengatakan bahwa diskusi literasi akan terus menjadi agenda rutin komunitas sebagai bentuk komitmen dalam menjaga budaya membaca sekaligus merawat ingatan sejarah Aceh.
Menurutnya, sosok Habib Bugak Al-Asyi merupakan bukti bahwa kebesaran seseorang tidak hanya diukur dari kemasyhuran namanya, tetapi dari besarnya manfaat yang ditinggalkannya bagi umat.
“Habib Bugak Al-Asyi telah menunjukkan bahwa keikhlasan mampu melahirkan warisan yang hidup melampaui usia pemiliknya. Berabad-abad telah berlalu, namun manfaat wakafnya masih dirasakan oleh masyarakat Aceh hingga hari ini. Itulah sebabnya tokoh seperti beliau tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dipelajari dan diteladani. Kami berharap ruang-ruang diskusi seperti ini terus melahirkan generasi Aceh yang mencintai sejarahnya, gemar membaca, berani berpikir besar, dan memiliki semangat pengabdian sebagaimana dicontohkan oleh Habib Bugak Al-Asyi. Ketika sejarah mampu melahirkan keteladanan, maka di situlah masa depan Aceh sedang dibangun,” tutupnya. (*)











Komentar