BANDA ACEH – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA), Aziz Muhajir, bersama jajaran pengurus DPP JASA melakukan silaturahmi dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) , di Pendopo Gubernur Aceh, Rabu (2/9/2026).
Pertemuan tersebut turut dihadiri Sekretaris DPP JASA Azis Muhajir, Ketua Harian DPP JASA Rafi Zulkhairi, Bendahara DPP JASA Khairul, serta sejumlah pengurus dan anggota DPP JASA.
Menurut Sekjen DPP JASA Aziz Muhajir, silaturahmi tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar agenda organisasi. Pertemuan itu merupakan bagian dari ikatan kekeluargaan dan sejarah panjang antara Mualem dengan anak-anak syuhada Aceh.
Aziz mengatakan, tujuan pertama kedatangan DPP JASA adalah untuk mendengar secara langsung perkembangan kondisi Mualem.
“Tujuan pertama kami melakukan silaturahmi ini adalah untuk mendengar langsung perkembangan kondisi kesehatan Mualem. Bagi kami, beliau bukan hanya sosok pemimpin, tetapi juga bagian penting dari perjalanan panjang perjuangan dan perdamaian Aceh,” ujar Aziz Muhajir.
Menurutnya, hubungan antara Mualem dan anak-anak syuhada tidak semata-mata dibangun atas dasar kelembagaan. Ada ikatan sejarah dan emosional yang membuat hubungan tersebut lebih menyerupai hubungan keluarga antara seorang ayah dan anak.
“Kami datang bukan hanya sebagai pengurus organisasi. Kami datang sebagai anak menemui ayah. Bagi kami, Mualem adalah bagian dari keluarga besar JASA. Ada ikatan batin yang terbentuk dari perjalanan panjang sejarah Aceh dan tidak bisa diukur hanya dengan jabatan ataupun kepentingan politik,” katanya.
Selain bersilaturahmi, Aziz mengungkapkan bahwa DPP JASA juga memohon izin dan restu kepada Mualem terkait rencana pelaksanaan kegiatan “Duek Pakat Aneuk Syuhada Sigom Aceh” yang direncanakan berlangsung pada akhir tahun ini.
“Kedua, kami memohon izin dan restu kepada beliau bahwa pada akhir tahun ini DPP Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) akan melaksanakan sebuah kegiatan dengan tema ‘Duek Pakat Aneuk Syuhada Sigom Aceh’. Kegiatan ini menjadi momentum bagi anak-anak syuhada di seluruh Aceh untuk kembali mempererat silaturahmi, menyatukan pandangan, serta membicarakan berbagai persoalan yang berkaitan dengan masa depan Aceh,” jelas Aziz.
Ia menilai, forum tersebut penting sebagai ruang bagi anak-anak syuhada dari berbagai wilayah di Aceh untuk duduk bersama, membangun komunikasi, dan menyatukan gagasan mengenai arah masa depan Aceh.
Aziz juga menyinggung perjalanan perdamaian Aceh yang telah memasuki lebih dari dua dekade sejak MoU Helsinki ditandatangani.
“Kita semua menyadari bahwa sudah lebih dari dua dekade sejak perjanjian damai atau MoU Helsinki ditandatangani. Karena itu, menurut kami, sudah saatnya kita duduk bersama dan mengkaji secara objektif sejauh mana butir-butir kesepahaman yang telah disepakati bersama tersebut telah dijalankan,” ujarnya.
Ia menegaskan, upaya tersebut bukan dimaksudkan untuk membuka kembali persoalan masa lalu, melainkan sebagai bagian dari ikhtiar untuk memastikan cita-cita perdamaian Aceh terus dijaga dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ini bukan semata-mata untuk membuka kembali persoalan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga agar cita-cita perdamaian Aceh benar-benar memberikan manfaat dan keadilan bagi seluruh masyarakat Aceh,” tegas Aziz.
Lebih lanjut, Aziz mengatakan persoalan reintegrasi hingga saat ini masih menyisakan berbagai pekerjaan rumah yang perlu mendapatkan perhatian bersama.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut perlu dibicarakan melalui ruang dialog yang terbuka, arif, dan konstruktif, dengan mengedepankan kepentingan Aceh dan masa depan generasi mendatang.
“Begitu pula dengan persoalan reintegrasi yang hingga hari ini masih menyisakan berbagai pekerjaan rumah dan belum sepenuhnya tuntas. Kami berharap melalui ruang silaturahmi dan duek pakat ini, berbagai persoalan tersebut dapat dibicarakan secara terbuka, arif, dan konstruktif,” kata Aziz.
Ia menambahkan bahwa perdamaian Aceh harus dimaknai lebih luas daripada sekadar berhentinya konflik atau sebuah dokumen kesepakatan. Perdamaian harus mampu menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik bagi rakyat Aceh.
“Perdamaian yang telah kita perjuangkan bersama jangan hanya berhenti pada penandatanganan sebuah kesepakatan. Perdamaian harus benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat, menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyat Aceh,” tutup Sekjen DPP JASA Aziz Muhajir.
Silaturahmi tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan. Bagi DPP JASA, pertemuan dengan Mualem menjadi bagian dari upaya menjaga mata rantai sejarah, memperkuat persaudaraan anak-anak syuhada, sekaligus membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai masa depan Aceh.











Komentar