ACEH UTARA – Dewan Pimpinan Wilayah Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Kabupaten Aceh Utara melayangkan kecaman keras terhadap Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa terkait dugaan perintah tindakan represif oleh aparat TNI terhadap masyarakat di Aceh Utara baru-baru ini.
Ketua JASA Aceh Utara, Muchlis Sayed Adnan, menyatakan bahwa tindakan oknum aparat di lapangan telah mencederai rasa keadilan. Ia menuding Danrem 011/Lilawangsa telah melakukan tindakan provokasi yang berpotensi mengganggu stabilitas perdamaian dan ketertiban yang selama ini terjaga di tanah Aceh.
”Kami sangat menyayangkan sikap arogan ini. Danrem seharusnya menjadi pengayom, bukan justru melakukan provokasi yang memancing kemarahan publik. Tindakan represif ini adalah bentuk nyata gangguan terhadap kedamaian kita,” ujar Muchlis dalam keterangannya kepada media, Minggu (28/12).
Muchlis menekankan bahwa saat ini Aceh Utara sedang berduka dan kesulitan akibat bencana banjir yang melanda. Menurutnya, prioritas utama TNI dan Polri seharusnya adalah bersinergi dengan pemerintah daerah untuk membantu proses evakuasi dan penyaluran bantuan kepada korban terdampak.
Ia menyesalkan adanya insiden kekerasan terhadap warga yang justru sedang berniat baik menyalurkan bantuan.
”Seharusnya fokus utama TNI/Polri hari ini adalah membantu pemerintah menangani bencana banjir Aceh. Bukan malah bertindak brutal dan memukul masyarakat yang sedang mengantar bantuan. Ini sangat tidak berperikemanusiaan,” tegasnya.
Sebagai wadah anak-anak syuhada, JASA menegaskan posisi mereka yang akan selalu berada di barisan rakyat. Muchlis memperingatkan agar tindakan serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
”JASA berdiri bersama rakyat. Jika ke depan Danrem masih melakukan atau memerintahkan tindakan represif, tentu kami akan merespon sikap tersebut dengan tegas. Perlu dicatat, kami tidak takut untuk membela kebenaran dan hak-hak masyarakat,” pungkas Muchlis.
JASA mendesak pimpinan TNI yang lebih tinggi untuk mengevaluasi kinerja Danrem 011/Lilawangsa guna memastikan profesionalisme prajurit di Aceh tetap terjaga dan tetap mengedepankan pendekatan humanis kepada warga sipil.















Komentar