Abdul Hanan, yang lebih dikenal dengan nama Sayed Adnan, merupakan Gubernur Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Pase. Ia lahir pada tahun 1950 di Gampong Matang Sijuek, Aceh Utara. Said Adnan adalah anak pertama dari delapan bersaudara, putra dari Muhammad Adam, seorang tokoh pejuang yang pernah terlibat dalam gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), dan ibunya bernama Ummiyah. Latar belakang keluarga pejuang inilah yang turut membentuk pandangan hidup dan jalan perjuangannya.
Riwayat keterlibatan Sayed Adnan dalam perjuangan Aceh Merdeka bermula pada tahun 1980-an. Saat itu, ia bertemu dengan Ilyas Leube di Takengon. Ilyas Leube sendiri merupakan tokoh penting dalam struktur GAM yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kehakiman GAM dan Perdana Menteri GAM. Dalam pertemuan tersebut, Ilyas Leube meminta Sayed Adnan untuk meneruskan perjuangan Aceh Merdeka, mengingat Sayed Adnan berasal dari garis keturunan keluarga pejuang.
Beberapa tahun setelah pertemuan itu, Sayed Adnan kembali dipertemukan dengan tokoh GAM lainnya, yakni Mahmud, salah seorang anggota GAM lulusan latihan militer di Libya (Ex-Libya), yang juga merupakan adik ipar Muzakir Manaf (Mualem). Saat itu, Mahmud datang ke rumah Sayed Adnan di Matang Sijeuk bersama rekannya Tengku Ramli (Pimpinan GAM Sagoe Batee Puteh), untuk mengunjungi Salbiyah, kakak Tengku Ramli yang tinggal di rumah Sayed Adnan karena sedang menjalani KKN di Matang Sijuek.
Dalam pertemuan tersebut, Mahmud menceritakan secara rinci mengenai kepulangan para Ex-Libya ke Aceh, kisah Hasan Tiro, serta arah perjuangan Aceh Merdeka. Cerita itulah yang semakin menguatkan tekad Sayed Adnan untuk bergabung secara aktif dalam barisan GAM.
Saat itu, para Ex-Libya mendapat tugas utama untuk menjumpai panglima wilayah masing-masing. Namun kondisi keamanan tidak memungkinkan mereka menyiarkan kepulangan ataupun menyampaikan maksud mereka secara terbuka. Para Ex-Libya bahkan tidak mengetahui secara pasti keberadaan pimpinan wilayah GAM, sehingga tidak ada yang berani mengumpulkan atau mempersatukan mereka.
Dalam situasi inilah Sayed Adnan mengambil inisiatif besar. Dengan keberanian dan kebijakannya, ia mengumpulkan para Ex-Libya yang telah kembali ke Aceh di kawasan Matang Sijuek. Ia bahkan menjemput langsung Teungku Muhammad Yusuf Ali (Usop Ali), Panglima GAM Wilayah Pase, untuk dipertemukan dengan para Ex-Libya wilayah setempat.
Langkah Sayed Adnan ini kemudian menarik perhatian anggota GAM dari berbagai wilayah lain. Para pejuang dari Aceh Timur, Sigli, Takengon, Bireuen, Pidie, hingga wilayah lainnya ikut berkumpul di Matang Sijuek. Bahkan Mualem, yang saat itu kembali ke Aceh setelah menempuh pelatihan militer di Libya, juga sempat dikumpulkan di Matang Sijuek. Dalam konteks ini, Sayed Adnan dikenal sebagai orang pertama yang berhasil mengumpulkan dan menyatukan para Ex-Libya dari berbagai wilayah Aceh.
Pada saat itu, jabatan Gubernur GAM Wilayah Pase masih dipegang oleh Tengku Yusuf AB. Namun pada Juli 1990, Tengku Yusuf AB gugur ditembak TNI di Gampong Arungan Trieng Pantang, Aceh Utara. Dan pada tahun yang sama, pemerintah Orde Baru menetapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM).
Penetapan DOM membuat seluruh Ex-Libya yang sebelumnya berkumpul di Matang Sijuek tercerai-berai untuk menyelamatkan diri. Banyak di antara mereka yang gugur selama masa DOM. Pada akhir 1991, Sayed Adnan bersama sejumlah Ex-Libya menyeberang ke Malaysia. Sayed Adnan sendiri tercatat sebagai orang terakhir yang meninggalkan Aceh menuju Malaysia.
Pada akhir 1998, seiring runtuhnya Orde Baru dan bangkitnya kembali GAM, Sayed Adnan kembali ke Aceh. Saat itu, situasi Aceh dipenuhi euforia perjuangan, bahkan sebagian masyarakat meyakini kemerdekaan Aceh sudah sangat dekat.
Dalam momentum kebangkitan GAM tersebut, Sayed Adnan secara resmi diangkat sebagai Gubernur GAM Wilayah Pase, menggantikan Tengku Yusuf AB. Dengan figurnya yang karismatik, komunikatif, dan jiwa sosial yang kuat, ia mampu bergaul dengan berbagai kalangan masyarakat.
Bahkan, Sayed Adnan dikenal sebagai pimpinan GAM pertama di wilayah Pase yang terbuka kepada media. Ia bersedia memberikan konfirmasi dan pernyataan langsung kepada wartawan, baik media lokal, nasional, hingga media asing, termasuk media Jepang. Sikap keterbukaannya ini membuat pemberitaan mengenai konflik Aceh saat itu menjadi lebih berimbang.
Pada tahun 2002, dinamika perjuangan Aceh memasuki babak baru. Pimpinan GAM di luar negeri mulai membuka opsi perdamaian dengan Pemerintah Indonesia. Namun, kesepakatan ini perlu disinkronkan dengan kondisi dan sikap para pejuang GAM yang masih bergerilya di dalam Aceh.
Dalam konteks itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)—yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polhukam) pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri—ditugaskan untuk menjajaki komunikasi dengan pimpinan GAM di lapangan. Untuk menjalankan tugas tersebut, SBY mengutus Imam Syuja’, Ketua Muhammadiyah Aceh, guna mencari dan mempertemukan pemerintah dengan pimpinan gerilyawan GAM di dalam negeri.
Namun pada tahap awal, Imam Syuja’ menghadapi kesulitan. Ia belum mengetahui secara pasti siapa sosok pimpinan GAM di lapangan yang memiliki legitimasi kuat untuk diajak berkomunikasi, serta bagaimana cara menjangkau mereka dalam situasi konflik yang masih berlangsung.
Titik terang muncul ketika Imam Syuja’ menunaikan ibadah haji bersama Abdullah Puteh, Gubernur Aceh saat itu, serta Syarifuddin Abbas (Abu Din), salah seorang masyarakat Aceh yang ikut dalam rombongan haji tersebut. Di sanalah Imam Syuja’ menyampaikan kepada Abdullah Puteh dan Abu Din bahwa ia diutus langsung oleh SBY untuk mencari pimpinan GAM di dalam negeri guna membuka jalan perdamaian.

Almarhum Sayed Adnan, Gubernur GAM Pasee
Abu Din kemudian menyatakan kesediaannya untuk membantu. Sepulang dari Tanah Suci, Abu Din menghubungi Sofyan Adam, adik kandung Sayed Adnan, dan memintanya datang ke Banda Aceh. Pertemuan pun terjadi antara Sofyan Adam dan Imam Syuja’. Dalam pertemuan tersebut, Imam Syuja’ menyampaikan secara langsung mandat yang diberikan SBY.
Sofyan Adam menjawab bahwa satu-satunya sosok yang dapat ia hubungi adalah abang kandungnya, Sayed Adnan, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur GAM Wilayah Pase. Imam Syuja’ menyetujui hal tersebut. Sejak saat itu, Sofyan Adam menjadi perantara komunikasi antara Imam Syuja’ dan Sayed Adnan.
Melalui serangkaian pertemuan dan perantaraan, serta telah mendapat restu dari Mualem, yang saat itu menjabat sebagai Panglima GAM, Sofyan Dawood (Panglima GAM Wilayah Pase), serta pimpinan GAM di luar negeri, Sayed Adnan akhirnya bertemu langsung dengan SBY di Kompleks Arun.
Dalam pertemuan itu, SBY mengajukan tiga pertanyaan penting:
1. Apakah kelompok GAM di luar negeri di bawah Hasan Tiro adalah pimpinan Anda?
2. Jika pimpinan anda di luar negeri menghendaki damai, apakah anda setuju?
3. Jika damai terwujud, apakah ia sanggup mengamankan Aceh?
Sayed Adnan menjawab tegas: pimpinan GAM luar negeri adalah pimpinannya, keputusan pimpinan akan diikuti, dan ia sanggup mengamankan Aceh jika Indonesia serius dengan perdamaian. Pertemuan itu diakhiri dengan pelukan dan penyerahan cincin bermata hitam yang diserahkan oleh Sayed Adnan kepada SBY sebagai simbol komitmen.
Tiga bulan setelah pertemuan tersebut, lahirlah Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) atau Perjanjian Penghentian Permusuhan antara Pemerintah Indonesia dan GAM pada 9 Desember 2002 di Jenewa, Swiss.
Namun kerangka kerja perdamaian untuk menciptakan zona damai itu tak berlangsung lama atau gagal, yang akhirnya memicu diberlakukannya Darurat Militer oleh Presiden Megawati pada Mei 2003.

Sayed Adnan kembali mengangkat senjata bersama GAM bergerilya melawan pasukan pemerintah. Hingga akhirnya, pada Jumat pagi, 16 Januari 2004, Sayed Adnan gugur tertembak di Buket Seuntang Lhoksukon, Aceh Utara. Ia dimakamkan di samping makam ibunya, Ummiyah, di Matang Sijuek.
Beberapa waktu lalu, publik Aceh diramaikan oleh Gubernur Aceh Mualem yang terlihat mengenakan kaos bergambar Sayed Adnan, saat meninjau lokasi terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tenggara dan Gayo Lues.
Pada kaos tersebut terpampang foto Sayed Adnan dengan tulisan “Gubernur GAM” di bagian bawahnya. Penampilan itu sontak menyedot perhatian publik dan memantik kembali ingatan masyarakat terhadap sosok Sayed Adnan serta peran pentingnya dalam sejarah perjuangan Aceh. Banyak pihak turut mendoakan almarhum dan mengenang jasa-jasanya.
Hingga akhir hidupnya, Sayed Adnan dikenang sebagai pemimpin GAM Wilayah Pase yang berani, komunikatif, mampu menyatukan pejuang lintas wilayah, serta menjadi jembatan penting antara perjuangan bersenjata dan upaya perdamaian di Aceh.















Komentar