ACEH UTARA – Ketua Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Kabupaten Aceh Utara, Muchlis Said Adnan, melontarkan kritik keras terhadap pernyataan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) jendral Maruli Simanjuntak mengenai hilangnya baut jembatan Bailey di Awe Geutah. Muchlis menilai narasi yang dilemparkan ke publik tersebut bukan hanya berlebihan, tetapi juga mengandung kejanggalan yang dipaksakan.
Muchlis memaparkan fakta lapangan bahwa baut pada jembatan tipe Bailey memiliki spesifikasi teknis khusus dengan tingkat kekencangan (torsi) yang sangat tinggi demi keamanan tonase kendaraan. Menurutnya, klaim kehilangan baut akibat pencurian warga sangat tidak masuk akal secara logika mekanis.
Membuka baut jembatan Bailey itu bukan perkara mudah dan mustahil bisa dilakukan secara kilat. Baut-baut itu dipasang dengan spesifikasi teknis yang sangat presisi dan diikat sangat kuat agar mampu menahan beban tonase. Untuk melepaskannya, mustahil hanya menggunakan tangan kosong atau kunci pas biasa; diperlukan alat khusus dan tenaga ekstra. Apalagi yang dilaporkan hilang jumlahnya banyak, yang secara teknis membutuhkan waktu berjam-jam untuk membongkarnya. Pertanyaannya, siapa yang punya nyali dan waktu sebanyak itu untuk bekerja membongkar jembatan secara terang-terangan di bawah penjagaan aparat yang berjaga ketat?” tegas Muchlis.
Lebih lanjut, Muchlis mempertanyakan efektivitas pengamanan jika benar pencurian itu terjadi. Diketahui, jembatan Awe Geutah berada dalam pengawasan personel kepolisian yang bersiaga di kedua sisi pintu masuk.
”Jembatan itu dijaga polisi lengkap di kedua sisi. Sangat tidak masuk akal jika ada aksi teknis berat seperti membongkar baut menggunakan mesin bisa lolos dari pantauan. Ini murni narasi yang dipaksakan,” tambahnya.
Ketua JASA menyayangkan sikap KSAD jendral Maruli Simanjuntak yang sampai harus turun tangan mengeluarkan pernyataan terkait masalah teknis di tingkat desa. Ia menilai hal ini sebagai bentuk penyimpangan fokus kinerja seorang Jenderal bintang empat.
”Tugas KSAD itu mengurus kedaulatan negara dan pertahanan dari ancaman luar, bukan urusan baut jembatan! Masalah seperti ini seharusnya cukup diselesaikan di level Koramil atau Polsek setempat. Jika KSAD sampai bicara, ini menunjukkan ada kepantingan yang ingin ditonjolkan secara berlebihan,” sindir Muchlis.
Kritik paling tajam yang disampaikan Muchlis adalah dugaan kuat bahwa isu baut ini sengaja digelembungkan untuk menutupi borok oknum institusi. Ia mencium adanya aroma pengalihan isu terkait insiden pemukulan yang dilakukan oknum TNI terhadap warga yang hendak mengantarkan bantuan ke Aceh Tamiang.
”Kami menilai ini taktik lama. Publik sedang menyoroti tindakan represif oknum TNI yang memukul masyarakat pengantar bantuan di Aceh Tamiang. Narasi baut hilang ini sengaja diproduksi secara masif agar opini publik bergeser, seolah-olah warga Aceh yang merusak infrastruktur, padahal tujuannya untuk menutupi kasus kekerasan tersebut,” tegasnya dengan nada tinggi.
Menutup pernyataannya, JASA mendesak pimpinan TNI untuk berhenti memproduksi polemik yang menyudutkan masyarakat Aceh melalui isu-isu kecil yang tidak logis.
”Kami mendesak agar kasus kekerasan terhadap warga di Aceh Tamiang dan Aceh Utara kemarin segera diselesaikan secara hukum dengan tuntas. Jangan coba-coba mengalihkan perhatian kami dengan drama baut jembatan yang penuh kejanggalan ini!” tutup Muchlis Said Adnan.















Komentar