ACEH UTARA – Kabar duka menyelimuti Bumi Pase. Sosok pejuang yang dikenal teguh dan penuh wibawa, H. Abu Bakar A. Latif, atau yang lebih akrab disapa Abu Len, telah berpulang ke Rahmatullah pada Selasa, 3 Februari 2026, di Rumah Sakit Umum Cut Meutia (RSUCM). Kepergian Panglima Wilayah Samudera Pase ini meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar KPA/PA serta masyarakat Aceh.
Saiful Bahri (Pon Yaya), menyampaikan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian sang senior yang menjadi panutan banyak pihak.
“Aceh kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya. Abu Len bukan sekadar pimpinan bagi kami, beliau adalah sosok ayah, guru, sekaligus penengah yang bijaksana. Beliau mengajarkan kita bahwa perjuangan tidak hanya soal keberanian di medan tempur, tapi juga soal menjaga kehormatan dan martabat di masa damai. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Pon Yaya.
Rekam Jejak: Dari Rimba Konflik hingga Penjaga Perdamaian
Perjalanan hidup Abu Len adalah cerminan sejarah panjang perjuangan Aceh. Di masa konflik, beliau dikenal sebagai salah satu panglima yang memiliki strategi mumpuni di wilayah Samudera Pase. Namun, di balik ketegasannya sebagai kombatan, Abu Len adalah sosok yang sangat menjaga etika dan keselamatan warga sipil.
Setelah penandatanganan MoU Helsinki, Abu Len menjadi tokoh sentral dalam menjaga stabilitas perdamaian. Beliau memahami betul bahwa perjuangan bersenjata telah usai dan kini bertransformasi menjadi perjuangan politik demi kesejahteraan rakyat Aceh melalui koridor yang konstitusional.
Kepribadian di Partai Aceh: Bijaksana, Sopan, dan Kharismatik
Di dalam internal Partai Aceh, Abu Len dikenal sebagai sosok yang sangat dihormati karena kepribadiannya yang tenang. Beliau bukan tipe pemimpin yang meledak-ledak, melainkan pemimpin yang merangkul.
* Kesantunan yang Luar Biasa: Meski memegang jabatan tinggi sebagai Panglima, beliau selalu berbicara dengan tutur kata yang sopan kepada siapa saja, termasuk kepada para kader muda. Hal ini membuat beliau dicintai oleh berbagai kalangan.
* Kharisma dan Wibawa: Beliau memiliki wibawa alami. Kehadirannya dalam setiap musyawarah sering kali menjadi penyejuk dan pemberi solusi di saat terjadi perbedaan pendapat.
* Kebijaksanaan: Beliau selalu mengedepankan kepentingan bersama dan keutuhan organisasi di atas kepentingan pribadi, sebuah sikap yang menjadikannya pilar kekuatan bagi Partai Aceh di wilayah Pase.
Kepergian Abu Len di RS Cut Meutia pada awal Februari ini menjadi kehilangan besar bagi sejarah kontemporer Aceh. Namun, semangat kesantunan dan keteguhan prinsip yang beliau wariskan akan terus hidup di sanubari para penerusnya di Bumi Pase.
Selamat Jalan, Abu Len. Jasa dan pengabdianmu akan selalu terukir di tanah Aceh.















Komentar