News
Beranda » Berita » Aceh Dilanda Banjir, Pon Yaya Maknai Milad GAM ke-49 sebagai Solidaritas Utama.

Aceh Dilanda Banjir, Pon Yaya Maknai Milad GAM ke-49 sebagai Solidaritas Utama.

​ACEH UTARA – Peringatan bersejarah 4 Desember 1976, yang dikenang sebagai momen deklarasi kemerdekaan Aceh, milad GAM 49 tahun kali ini diselimuti duka mendalam akibat musibah banjir besar yang melanda berbagai wilayah di Aceh.

​Menanggapi kondisi ini, eks kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menjabat sebagai tokoh politik Aceh, Saiful Bahri alias Pon Yaya, mengeluarkan pernyataan yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengalihkan semangat perjuangan masa lalu menjadi aksi nyata kemanusiaan.

​Dalam pernyataannya, Pon Yaya menegaskan bahwa semangat yang dikobarkan pada 4 Desember tidak boleh padam, namun harus berevolusi menghadapi tantangan baru.

​”Dahulu, kami para prajurit berjuang di balik belantara dan perbukitan. Kami bertempur demi martabat. Hari ini, 4 Desember, semangat itu harus kita refleksikan pada tantangan yang nyata di depan mata: Banjir di Aceh,” ujar Pon Yaya dengan nada tegas.

​Pon Yaya, yang merupakan eks Wadanki TNA Wilayah Pase dan sekarang menjabat Komando Operasi Daerah II Tgk. Chiek di Cot Plieng, melanjutkan, “Kami telah bertransisi dari perjuangan bersenjata ke perjuangan politik dan pembangunan. Sekarang, kami menyerukan transisi yang lebih mendesak: dari perjuangan di dalam hutan, kini kita harus terjun berjuang di medan kemanusiaan. Saudara-saudara kita kedinginan, kehilangan tempat tinggal. Ini adalah pertempuran baru yang menuntut persatuan dan keikhlasan kita semua.”

Innalillahi, Pon Yaya: Mengenang Sosok Kharismatik Abu Len

​Pon Yaya secara khusus menekankan bahwa makna hakiki dari perjuangan dan kemerdekaan kini terletak pada kemampuan Aceh untuk mandiri dan sejahtera melalui pembangunan yang merata.

​”Jika dahulu kemerdekaan adalah cita-cita yang kami kejar dengan keringat dan darah, hari ini kemerdekaan sejati rakyat Aceh adalah terwujudnya pembangunan yang kuat, mandiri, dan bermartabat. Misi kami sekarang adalah pembangunan Aceh yang adil dan makmur,” tegasnya.

​Ia menambahkan, “Musibah banjir ini adalah ujian atas perdamaian dan pembangunan kita. Jangan biarkan semangat 4 desember hanya menjadi seremonial. Buktikan bahwa semangat pengorbanan itu masih ada dengan menyalurkan bantuan, menolong pengungsi, dan memastikan tidak ada rakyat Aceh yang merasa ditinggalkan dalam musibah ini. Ini adalah wujud kedaulatan kita yang sesungguhnya: Mampu berdiri tegak dan saling membantu dalam kesulitan demi melanjutkan pembangunan Aceh.”

 

Gubernur Aceh Tetapkan Perpanjangan Keempat Status Tanggap Darurat Bencana

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *